Sabtu, 11 Juni 2011

Percayalah Anda Adalah Manusia Genius

Setelah membaca judul tulisan ini, coba Anda merenung sebentar. Lihat, cermati, rasakan dan ingat kembali apa yang seketika muncul dalam pikiran Anda ketika membaca judul tersebut. Apakah Anda merasa kaget dan sedikit mengerutkan dahi ? Apakah Anda menjadi tertarik dan itu kemudian membangkitkan rasa keingintahuan Anda ? Atau mungkin, seketika itu juga dalam pikiran Anda muncul pernyataan bantahan "Omong kosong apalagi ini ?"

Tidak semua mungkin dari Anda bereaksi seperti yang saya sebutkan tadi ketika membaca judul tulisan ini, tetapi saya berani bertaruh (seandainya boleh) bahwa sebagian besar dari Anda akan bereaksi seperti yang saya sebutkan tadi atau minimal senada lah dengan itu. Jujur saja yah.... hehehehe nggak usah ngebantah deh...

Nah, apa artinya ini ? Sederhana saja jawabannya. Artinya banyak dari kita tidak percaya bahwa diri kita atau semua yang namanya manusia itu genius. Genius disini tidak berarti Anda harus mampu menghafal banyak hal dan mampu menyebutkannya dengan fasih. Dan genius itu juga tidak berarti bahwa di belakang nama Anda harus ada sederet titel, ataupun Anda harus terlebih dahulu mendapatkan pengakuan resmi dari lembaga-lembaga tertentu. Hehehehehe... Tidak, tidak seperti itu maksudnya. Genius itu adalah kemampuan untuk memahami sesuatu dengan baik dan jelas, dan kemampuan ini muncul karena adanya kemauan untuk melihat segala sesuatu dari semua sisi sehingga menghasilkan pemahaman yang benar-benar utuh. Sesuatu yang saya maksudkan disini artinya adalah apa pun. Yup, apa pun, segala sesuatu baik yang berbentuk ataupun tidak berbentuk. Jadi tidak terbatas pada satu atau dua hal saja.

Nah, ketika kita memiliki pemahaman yang benar-benar utuh tentang sesuatu karena kita sudah melihatnya dari spektrum yang luas maka akan sangat mudah bagi kita untuk mengerti apa dan bagaimana sesuatu itu. Sehingga ketika kita melihat, mengalami atau merasakan sesuatu, kita jadi mengerti dan memahami apa yang kita lihat, apa yang kita alami atau apa yang kita rasakan tersebut. Dan ketika kita mengerti dan paham maka semuanya akan menjadi mudah dan jelas bagi kita.

Ok, ilustrasi sederhananya begini deh... Anda pasti pernah mendengar atau membaca cerita tentang lima orang buta yang bertengkar dan bersitegang satu sama lain bahkan masing-masing sudah menghunus senjata-senjata andalannya (konon kelima orang buta ini ahli silat juga) ketika mereka saling mencoba menjelaskan tentang sosok seekor gajah yang baru pertama kali mereka jumpai. Orang buta yang pertama bersikukuh bahwa gajah itu bentuknya bulat, panjang, ujungnya berlubang dan berlendir (please jangan ngeres yah!). Orang buta yang kedua berteriak bahwa gajah itu bentuknya pipih dan lebar. Yang ketiga membantah bahwa gajah itu panjang, bulat dan ada bulunya (wah.. pasti pikiran Anda sudah macam-macam neh..). Yang keempat malah bilang gajah itu bulat, runcing dan keras. Dan yang kelima malah bilang gajah itu bulat dan besar.

Salah nggak kelima orang buta ini ? TIDAK.. apa yang mereka ungkapkan adalah benar. Saya menyebutkan benar karena bagaimanapun juga mereka melihat dari sisi pandang mereka berdasarkan fakta dan kenyataan yang mereka temui, karena mereka buta yah berarti faktanya berdasarkan apa yang bisa mereka rasakan saja... Tetapi, seandainya mereka sedikit saja mau mendengarkan pendapat teman-teman mereka yang lain tanpa saling merasa bahwa pendapatnya lah yang benar dan pendapat orang lain adalah salah maka perdebatan dan pertengkaran tersebut tidak akan terjadi. Bahkan dengan menggabungkan seluruh pendapat masing-masing mereka malahan akan mendapatkan sebuah gambaran yang lebih lengkap tentang sosok gajah yang mereka perdebatkan. Atau jika saja mereka mau untuk melihat dan memahami bagaimana teman mereka tersebut sampai memiliki pendapat yang berbeda dengan mencoba melakukan apa yang teman mereka tersebut lakukan, yaitu dengan memegang bagian tubuh gajah yang mereka pegang sehingga mereka bisa saling memahami mengapa teman mereka berpendapat begini atau begitu, maka mereka masing-masing akan memiliki pemahaman yang jauh lebih baik tentang gajah.

Jadi Genius itu hanyalah masalah mau dan tidak mau saja bagi manusia. Genius bukan soal otak, genius bukan soal keturunan dan lain sebagainya. Siapapun Anda, selama Anda masih keturunan manusia dan bukan berasal dari kera yang berjalan tegak maka Anda terlahir dengan kemampuan yang sama secara fisik. Potensi kita sebagai manusia sama besarnya satu sama lain. Kita terlahir untuk menjadi sang genius. Tuhan sudah menciptakan dan memproklamirkan kita sebagai ciptaan-Nya yang paling sempurna. Sempurna kata Tuhan jauh dari pengertian sempurna yang bisa kita bayangkan. Nah, yang membuat kita terlihat memiliki kemampuan lebih atau kurang dari manusia lainnya hanyalah terletak pada soal mau dan nggak mau saja.

Anda mungkin terkagum-kagum dengan Albert Einstein, Picasso, Mozart dan lain sebagainya yang kebanyakan orang menganggapnya sebagai manusia-manusia genius karena ahli dalam bidangnya masing-masing. Dan maaf-maaf saja saya tidak pernah menganggap mereka genius karena hal-hal tersebut. Sama sekali tidak. Apa yang mereka capai adalah hal biasa saja, Anda, saya dan seluruh manusia dari bangsa manapun bisa melakukan apa yang mereka lakukan karena kita sebagai manusia memang sudah dipersiapkan untuk bisa seperti itu.

3 Area di dalam hidup kita

Ada 3 Area di dalam hidup kita
1. Area di luar kontrol kita
2. Area di dalam pengaruh kita
3. Area di dalam kontrol kita

Area di luar kontrol kita misalnya kita terlahir sebagai laki-laki atau perempuan, kita lahir tanpa bisa memilih orang tua kita, cuaca, ada helikopter mendadak menjatuhi kita, dan lain-lain.
Hal hal di atas tidak selalu mutlak. Bisa jadi jenis kelamin kita menjadi sesuatu di dalam kontrol kita apabila memang ditemukan teknologi untuk merubah ini (ini tidak saya sarankan)

Area di dalam pengaruh kita misalnya anak kita, teman kita, istri kita dan lain-lain. kalau keadaan ekonomi, politik? Ekonomi, politik bukanlah sesuatu di dalam kontrol kita, tetapi masih bisa kita pengaruhi. Jadi, keadaan ekonomi dan politik merupakan sesuatu di dalam pengaruh kita.

Apakah anak kita merupakan sesuatu di dalam kontrol kita? Bukan. Anak kita hanyalah sesuatu di dalam pengaruh kita. Kita tidak bisa mengontrolnya, misalnya jika dia tidak mau makan. maka anak kita merupakan sesuatu di bawah pengaruh kita.
Kalau binatang peliharaan kita ? Binatang peliharaan kita merupakan sesuatu di dalam pegaruh kita, bukan di dalam kontrol kita. Misalnya anjing kesayangan kita, kita tidak bisa mengontrolnya jika dia menggonggong terus. Kita hanya bisa mempengaruhinya saja.

Terus hal yang ada di dalam kontrol kita apa sih?
Sesuatu hal yang di dalam kontrol kita adalah sesuatu yang ada di dalam diri kita, misalnya emosi kita.


Ada dua kisah yang sangan inspiratif, yaitu Elvis Presley dan W mitchel

Elvis Presley, orangnya sagat tampan, sangat fasih dalam menyanyi, terkenal dan kaya raya. Ketika itu dia tidak merasa bahagia, akhirnya dia berfikir, saya akan bahagia jika punya rumah. Setelah punya rumah ternyata tidak bahagia. Akhirnya dia berfikir "saya akan bahagia jika memiliki pasangan yang cantik. Dia bahkan sempat berganti-ganti pasangan, antara lain dengan Dixie Locke, Anita Wood, Ann-Margret, Linda Thompson, Ginger Alden, dan Priscilla. Tetapi dari situ dia tidak menemukan kebahagiaan. Kareana sama sekali tidak menemukan kebahagiaan, akhirnya dia mulai memakai obat-obatan terlarang. Apakah 1 butir cukup? ternyata tidak, besoknya dicoba 2 butir. Apakah 2 butir cukup? Ternyata tidak. besoknya 5 butir. apakah 5 butir cukup? ternyata tidak. Akhirnya dia gunakan 35 butir sampai akhirnya meninggal.

Kisah ini jauh berbeda dengan W Mitchel. Dia adalah seorang pemuda yang sangat hobi mengendarai sepeda motor besar. Suatu saat dia mengendarai sepedanya di jalan tol dengan kecepatan mendekati 200 km/jam. Ketika dalam perjalanan mendadak sepeda motornya mengalami gangguan. Ketika itu dia menengok karburatornya ketika sepeda motor masih berjalan. Pada saat mengangkat kepalanya mendadak di depannya ada truk McDonald yang sedang berhenti. Dalam sepersekian detik dicobanya untuk membelokkan sepeda motornya. Sepeda motornya akhirnya masuk ke dalam kolong truk. Beruntung dia tidak menabrak truk, tetapi dia terbakar bersama sepeda motornya. Kondisi tubuhnya terbakar 90%. Wajahnya yang tampan juga tergores aspal, sehingga dioperasi plastik 7 kali juga wajahnya tetap jelek.
Akhirnya W Mitchel dirawat di rumah sakit. Tetapi karena emosinya bagus maka kondisi wajahnya yang masih jelek dipakai untuk menakut-nakuti para perawatnya. Setelah sembuh dia bisa hidup normal, dan bahkan akhirnya dia memiliki 3 perusahaan sampai akhirnya memiliki pesawat helikopter sendiri. Dia juga menikah dengan wanita yang dicintainya.

Suatu hari Mitchel mengendarai pesawat pribadinya bersama 3 orang temannya. Akan tetapi di perjalanan pesawatnya mengalami gangguan akibat bahan bakarnya tersumbat, hingga akhirnya 3 orang temannya tewas. kondisi Mitchel sangat menyedihkan. Dia lumpuh leher ke bawah, suara dari mulutnya tidak bisa keluar, bahkan dia juga tidak bisa menelan makanan. Yang lebih menyedihkan, diat tidak bisa bernafas kecuali memakai alat bantu. Yang bisa dilakukan hanyalah mengedipan matanya. Dengan kondisi seperti itu semestinya dia berhak bersedih. Tapi beruntung juga hanya bisa berkedip, karena jika ingin bunuh diri maka dengan kedipan matanya dia tidak akan mati juga. Komunikasi dengan Mitchel sangatlah sulit.

Akhirnya seorang perawatnya berusaha untuk membuat komunikasi dengan dia. Satu kedipan berarti iya dan 2 kedipan berarti tidak. Dia memilih 26 huruf abjad untuk dirangkai menjadi kalimat. Misalnya apakhah huruf I? jika iya diteruskan, jika tidak diganti. Setelah huruf pertama benar misalnya ditanya apakah huruf S? jika iya diteruskan. Apakah berikutnya R, jika iya maka diteruskan sampai akhirnya terbentuk kalimat ISTRI. Berarti Mitchel lagi membutuhkan istrinya.

Suatu hari dokter datang dan berkata, "mulai hari ini kamu menjadi tumbuhan, kamu akan hidup dengan bergantung pada orang lain". Ketika dokter berkata begitu, Mitchel malah berkata dengan bahasa isyaratnya ,"Saya akan keluar dari rumah sakit ini, saya akan mandiri". Dokter berkata "tidak mingkin". Akhirnya Mitchel berkata dalam bahasa isyarat "memangnya kamu Tuhan" . Dengan keadaan seperti itu Mitchel bukan tertekan tapi malah tertantang.

Istrinya hanya bisa bertahan menemani dia selama 3 minggu, setelah itu dia kabur bersama pria lain sambil membawa hartanya. Menghadapi keadaan seperti itu dia mala semakin tertantang.

Akhirnya dia meminta kepada perawatnya coba untuk melepaskan alat bantu pernafasannya. Perawatnya langsung berkata "jangfan, nanmti kamu mati". Mitchel berkata ,"ya jangan lama-lama, saya kan ingin belajar bernafas". Karena permintaan Mitchel yang terus menerus akhirnya prawat mencobanya. Setelah mencoba ternyata Mitchel memeng tidak bisa bernafas sampai mukanya merah semua. Sang perawat akhirnya mengenakannya kembali. Setelah dikembalikan , Mitchel sedikit lega, tetapi dia meminta dicoba dilepas sekali lahi. Kejadian ini terus berulang-ulang karena Mitchel memang tidak bisa bernafas. Tetapi pada hari ke 14 akhirnya Mitchel bisa bernafas tanpa memakai alat bantu.

Mitchel tidak menyerah sampai di situ. Dia meminta kepada perawatnya supaya disuapi makanan. Sang perawat berkata "Jangan, nanti kalau sampai tersumbat di tenggorokan bisa berbahaya". Mitchel berkata ,"Jangan yang keras, tapi bisa dimulai dari jus buah dulu. " Setelah disuapi dengan sedikit jus buah, Mitchel tidak bisa menelan, bahkan sebagian keluar lewat hidung. Setelah dicoba berkali-kali akhirnya Mitchel bisa menelan makanan pada hari ke 10.

Tibalah saatnya Mitchel belajar berbicara lagi. Dia berusaha mencoba berteriak-teriak, sehingga membuat perawatnya kaget. Sampai akhirnya karena usahanya yang begitu sungguh-sungguh, Mitchel bisa berbicara.

Setelah itu Mitchel meminta kepada perwatnya untuk menggerakkan tangannya sedikit demi sedikit. Setelah sekian lama latihan akhirnya Mitchel bisa menggunakan tangannya sampai akhirnya dia bisa keluar dari rumah sakit dengan memakai kusi roda.
Pendek kata akhirnya Mitchel belajar bermain basket, memajukan usahanya lagi, siaran di radio, berkampanye untuk orang-orang cacat, bahkan sempat menjadi walikota. Yang lebih unik lagi, dia akhirnya menikah dengan perawat yang merawatya selama ini.

Nah apa bedanya Elvis presley dengan W Mitchel ?
Elvis Presley menggantungkan kebahagiaan pada sesuatu yang bukan di dalam kontrolnya, tetapi W Mitchel menggantungkan kebahagiaan pada sesuatu di dalam kontrolnya.